Biasanya
kalau lagi bepergian pengen bawa sesuatu yang khas dari tempat yang dikunjungi
untuk dibawa pulang. Entah itu berupa makanan atau barang benda mati, kalau
makanan paling lama bertahan nggak lebih dari seminggu, soalnya cepat habis. Beda
lagi dengan barang yang tahannya bisa awet. Barang yang paling sering dibawa
pulang sebagai merchandise adalah gantungan kunci, magnet kulkas, miniatur landmark
negara yang bersangkutan, sampai pajangan keramik.
Kalau
bepergian ke kota dalam negeri, biasanya saya membeli kaos, aksesoris, tas dari
kain dan penganan. Hampir sama juga jika saya perginya ke luar negeri, biasanya
yang dibeli kaos, gantungan kunci, tas-tas belanja unik nan menggemaskan,
pokoknya yang berfungsi, kira-kira seperti itu. Tapi ada juga yang agak nggak
berfungsi seperti kartupos. Seringnya barang-barang ini saya beli untuk
keluarga sendiri, maklum tight budget juga.
Nggak
nyangka juga, sekian lamanya ternyata saya masih betah menyimpan beberapa
lembar kartupos dan terabaikan begitu saja.
Kenapa
saya suka kartupos? Saya sendiri juga nggak tau kenapa, dulu waktu masih SD
sudah sering kirim kuis majalah lewat kartupos, kemudian sering mengirim surat
ke artis cilik dan dibalas balik dengan kiriman kartupos bergambar sang artis. Betapa
saya dulu gemar sekali korespondensi. Mungkin ini awal mulanya beli kartupos
hahaha.
Koleksi
kartupos saya nggak banyak, karena nggak selalu tiap daerah yang dikunjungi
sempat untuk mampir kantor pos atau malah di tempat oleh-oleh nggak menjual si
kartupos. Yang masih tersimpan dengan baik sampai sekarang adalah kartupos
bergambar lokasi wisata dari Pulau Lombok, Melaka-Malaysia, Saigon, Universal
Studio Singapore, Penang dan Flores.
Beberapa
teman blogger ada yang dengan baik hati mengirimkan kartupos dari negara yang
dikunjungi ke alamat saya, sayangnya banyak gagalnya, gagal dalam artian si
kartupos nggak sampai ke alamat rumah, entahlah nyasar kemana.
The
Power of Postcard
Saya
nggak meyakini kalau sebuah kartupos bisa mempunyai “kekuatan” untuk membawa
kita ke daerah tersebut. Tapi sekarang saya berubah pikiran, kartupos ini bisa
dikatakan sebagai semacam cambukan atau pengingat jika seseorang mempunyai
angan-angan pengen kesana.
Dulu
kala, waktu pertama kali ke Pulau Lombok dengan waktu yang nggak lama, pastinya
ada banyak destinasi yang nggak keburu buat dikunjungi, salah banyaknya ada
Pantai Mawun. Pertama kali melihat gambar Pantai Mawun, saya kok suka ya, pasir
pantainya putih, lautnya berwarna biru tosca cakep, meskipun hampir semua
pantai disana juga seperti ini. Dan waktu ke toko oleh-oleh menemukan kartupos
yang dijual dan salah satunya bergambar Pantai Mawun ini, langsung auto beli
buat kenang-kenangan.
Saya
meletakkan kartupos bergambar Pantai Mawun ini dimeja kantor, berharapnya sih
suatu saat bisa balik lagi ke Lombok dan kalau sempat mampir ke Pantai Mawun
ini.
Kurang
lebih 5 tahun berselang dari kunjungan saya pertama kali ke Pulau Lombok, saya
balik lagi ke pulau dengan julukan pulau seribu masjid ini. Kali ini karena
edisi birthday trip #yaelahhh, dan nggak mau tanggung-tanggung juga, sekali
jalan di daerah Kuta Lombok, ya mampir sekalian ke Pantai Mawun.
Dannn
finally bisa menginjakkan kaki di pantai yang gambarnya cuman dipajang dimeja kantor
selama ini, pantainya benar-benar berpasir putih halus, warna lautnya biru
cantik, bibir pantainya beneran melingkar persis yang ada di kartupos. Kegirangan
nih anak kota hahaha
Dari
sekian sedikitnya simpanan kartupos, kartupos yang saya beli di Desa Denge
adalah yang menjadi favorit pertama. Desa Denge adalah desa terakhir sebelum
menuju ke Kampung Adat Waerebo, tepatnya saya beli di rumah Bapak Blasius
Monta, saya rasa semua traveler yang pernah ke Waerebo pasti nggak asing dengan
pemilik penginapan ini.
Karena
terkesima dengan cerita Pak Blasius soal “care-nya” warga asing terhadap
kearifan lokal dan budaya di Waerebo sampai history pembangunannya yang sungguh
luar biasa, membuat saya membeli beberapa lembar kartupos itu untuk dibawa
pulang. Berharapnya lain waktu bisa balik lagi ke sana.
Postcrossing
Waktu
membaca postingan mas Isna (djangki) soal kartupos, ternyata mas Isna suka
kartupos juga dan malah sepertinya gabung di komunitas postcrossing. Slogan dari
kegiatan ini adalah “send a postcard and receive a postcard back from a random
person somewhere in the world”. Secara nggak langsung, dari kegiatan
berkartupos ria ini, bisa menambah kenalan teman baru juga.
Dan
sepertinya sekarang makin jarang orang yang saling kirim kartupos di negeri
sendiri, wajah perangko saja yang terbaru saya nggak ngerti. Semua sudah
diganti dengan kiriman serba email dan kalaupun surat menyurat atau paket memilih
lewat expedisi seperti J**, J&*, dan kawan-kawannya. Saya pergi ke kantor
pos nggak lain hanya untuk membeli materai :D.
Kalau
melewati jalan semasa saya sekolah dulu, jadi teringat pulang sekolah
memasukkan kartu pos atau surat ke sahabat pena ke dalam kotak pos berwarna
orange terang itu. Sekarang? Kotak posnya sudah nggak ada. Duh kasian nasib
kotak pos, kejayaanmu dulu kini sudah sirna.
Ada yang punya kenangan atau cerita dengan kartupos jugakah?
Wah, makasih mba Ainun udah dimention hehehe :-D
ReplyDeleteSemua berawal dari mimpi yah, semesta mendukung dan akhirnya jadi ke tempat yg udah lama diidam2kan ...
Udah join postcrossing mba?
djangki | Avant Garde
iya mas isna, mungkin kalau ada niat plus usaha, impian bisa tercapai ya. pokok usahanya kudu kuat hehe
Deleteehh belum coba googling lebih banyak soal postcrossing mas isna, sempetnya masih baca-baca cerita temen yang ikutan postcrossing
Kalau aku, baru mempunyai pengalaman kirim-mengirim postcard pas udah dewasa. Waktu kecil pengin punya sahabat pena tapi nggak ngerti gimana cara dapetinnya, alhasil nggak pernah kirim-kirim surat sampai sekarang udah besar, ketika temanku ada yang tinggal di luar negeri, baru lah coba kirim postcard. Tapi malah nggak sampai 🤣
ReplyDeleteYang temanku kirim ke sini, kadang sampai, kadang nggak. Kalau nggak sampai, bikin aku kepikir, nyasar kemana ya kira-kira 😂
Btw, perangko jaman sekarang lucu-lucu lho kak. Gemesin gitu gambarnya, malah mirip kayak sticker anak-anak 😆
Dan sayang banget ya kejayaan kantor pos di Indonesia sudah sangat redup, hanya sebagian orang aja masih menggunakan jasanya. Sedangkan di luar negeri, kantor pos masih jaya sekali 😅
aku baca komen mba lia, jadi flasback jaman SD dulu, kok bisa aku terpikir buat kirim kirim psotcart atau surat kesahabat pena yang namanya aku dapat dari rubrik majalah hahaha, tapi nggak nyangka seru juga, balasannya malah ada yang bijaksana, padahal bisa dibilang kelas nya samaan
Deletenah itu mba li, kadang heran juga kalo kirim kartupos dari luar negeri kok ga bisa sampe, nyasar kemana gitu, malah sampe bertaun taun nggak ada batang hidungnya nih kartupos
aku penasaran sama perangko sekarang mba, seriusan lucu lucu gambarnya :D, pengen coba beli hahahaha
betul mba, kalo aku ke kantor pos ya masih rame, cuman nggak kayak duluuuuu banget, beberapa warga masih menggunakan kantor pos untuk pengiriman uang juga
Pertanyaannya: Emang kantor pos masih jual ya mbak? Soalnya kartu pos ini udah lama banget ditinggalkan.
ReplyDeletehahahaha nah itu dia kalo kartuposnya aku nggak tahu masih jual atau belum yang versi cetak dari PT. kantor pos Indonesia ya, malah kalo beli online sudah yang modifikasi dengan gambar lucu lucu
DeleteSayaaaaa. Saya masih hobi menulis dan mengirim kartu pos, mba. Hehehehe. Biasanya kalau pigi abroad suka kirim kartu pos ke keluarga dan teman-teman 😂 kadang bisa sampai 30 lembar. Wk. Kerajinan 🙈 tapi entah kenapa saya suka especially saat mereka menerimanya meski ada beberapa yang kesasar dan nggak sampai hingga sekarang 🤪
ReplyDeleteTapi saya nggak pernah kirim random ke orang yang nggak dikenal di dunia 🤭 ohya, nowadays perangko di kantor pos pilihannya nggak sebanyak dulu yang kadang kita bisa pilih mau gambar seperti apa. Contohnya di kantor pos pusat Bali, perangko yang dijual hanya 1 desain yang sama. Nggak seru jadinya 🤣 kebetulan saya sering kirim postcard dari Bali ke keluarga dan teman-teman di Korea 😁 semoga kalau one day kebiasaan menulis kartu pos kembali meningkat, kantor pos akan menyediakan banyak desain perangko baru sebagai pilihan 😍
uhuyyy ternyata mba eno suka kirim kirim kartu pos ya mba, seru gitu ya mba
Delete30 lembar nggak sedikit mba hahaha, gapapa sih meskipun ada yang nyasar, ngirim aja udah bikin seneng biasanya. Perkara nggak sampai urusan belakang, anggap saja pak posnya lagi ngantuk nggak nemuin alamat penerima :D
baru tau update dari mba eno nih, berarti sekarang terbatas ya mba desain perangkonya, iya dulu banyak pilihan, yang gambar flora fauna, trus apalagi ya sampe lupa hahaha
jadi inget album koleksi perangko aku, duhh lupa naruh mana, yampun aku dulu ternyata pernah beli album perangko dan disimpan sampe rapi.
semoga kegiatan kirim kabar atau sekedar say hi via kartupos bisa balik lagi kayak jaman bahula dulu ya, biar perangkonya bisa dibuat banyak varian hehe
Mungkin karena bukan era saya, kartu pos ini ngga begitu relate. Tapi saya tau tuh, yang kirim kartu pos ke artis cilik macam Christina Colondam, Trio Kwek-Kwek, dan teman-temannya. Itupun saya taunya karena kebutuhan riset beberapa waktu lalu
ReplyDeletewahhhhh mas rahul tau aja christina colondam, aku dulu sampe segitu sukaknya ya sama artis artis cilik wkwkwkwk, mungkin pernah kirim surat juga ke dia dan dibalas, astagaaaaa hahahaha
DeleteDulu saya koleksi postcard banyak tapi sekarang sudah banyak yang hilang, kalau sekarang mau kirim postcard jadi bikin sendiri karena kebetulan suka menggambar ^^ terimakasih artikelnya
ReplyDeletewahhh senengnya bisa bikin desain kartupos versi sendiri, biasanya lebih prestisius gitu hasilnya, karena nggak ada kembarannya
DeleteKenangan dengan kartu pos sih gada. Yang ada kenangan dengan mantan. Huhu. Tapi keren sih hobinya kak, apalagi kalau sampai masuk komunitasnya. Bisa tambah banyak teman.
ReplyDeletehehehe kenangan dengan mantan apalagi yang terindah ya kak, susah move on deh
Deleteitu dulu banget kak suka kirim kartupos, sekarang makin gede dan ngerti teknologi ehh malah kegeser lewat email. jadi kangen jaman jaman dulu
belum pernah coba gabung komunitasnya, cuman masih kepo kepo-in cerita membernya dulu aja
Huwaaaa, udah berlalu ini, saya kesal koleksi beberapa kartu pos saya simpan di lemari di rumah mama, sama mama dimasukin kardus, trus sama kakak di bakar, bete banget dah
ReplyDeleteKalau saya ke suatu daerah lebih suka koleksi kaosnya, soalnya saya penggemar kaos di rumah.
Kalau orang pecinta daster, saya sukanya pakai kaos sama celana pendek, lebih santai dan bebas bergerak hahaha.
Jadinya kalau ke mana-mana beli kaosnya, meski nggak pernah awet sih, soalnya kadang saya malas cuci tangan, masukin ke mesin cuci, lalu rusak deh sablonnya hahahaha
sama keselnya kayak mba rey nih aku, kayaknya koleksi album perangko aku dibuang sama ibuku dan adiku, padahal aku simpan di lemari adalah biar aman, ehhh nggak ada, itu dibuang aja nggak bilang bilang, kan bete ya hahaha
Deletenahh kaos aku juga suka beli kalo ke daerah yang masih baru didatangi, cari yang ada tulisan nama daerahnya biasanya, biar wow hahahaha
wahhh berarti kaosnya nggak bertahan lama "sablon" nya ya hahaha, tau tau udah luntur tulisannya hehehe
aku kok inget isi lemari ya mba hahahaha, beli kaos tapi malah jarang dipake, mau dikasih ke adikku ya ga bakalan cukup wkwkwk
Lah dipake dong :D
DeleteSaya makenya di rumah sih, meski akhirnya rusak tapi setidaknya kepake.
Dulu tuh ke manapun pergi pasti beli kaos, bukan buat oleh-oleh sebenarnya, cuman biasanya kami keluyuran itu nggak kira-kira, aslinya nggak ada persiapan, malah sampai ke mana-mana, jadinya nggak bawa ganti, belilah kaos hahahaha
hahaha gapapa juga mbak, itung itung ada kenangannya juga hasil dari kluyuran "no plan" nya itu
Deleteeh betewe Mba Inun, diapain blognya kok udah turun soam score nya?
ReplyDeletegantian spam score saya naik nih, kemaren udah disavov beberapa web sih :D
beberapa hari terakhir ini mata sepet mba wkwkwkwk, nguteki kesalahan-kesalahan blog, padahal masih utek utek gsc aja
DeleteWaahh kereeeenn, saya takjub liatnya, perasaan kemaren-kemaren spam scorenya lumayan, udah turun jadi kecil banget :D
DeleteJadi pengen utak atik gsc juga deh, kata pak Anton memang lebih banyak yang bisa diutak atik di situ :D
aku malah ga perhatian sama SS akhir akhir ini, indikator di layar kadang mati sendiri, karena lama ga dibuka, ehhh pas mba rey bilang turun, auto penasaran wkwkwkwk
DeleteOke mba :-D
ReplyDeleteWaktu smp saya juga koleksi kartu pos sama perangkonya dari sepupu di LN yang suka kirim2 kabar, sayangnya gak berlangsung lama pas sudah sma gantian koleksi kertas surat dan amplop surat yang wangi2 itu buat berkirim kabar sama teman jauh, duh jadi nostalgia saya :)
ReplyDeletemba yanie jadi ngingetin aku lagi nih, iya mbak dulu waktu aku sekolah lagi hits jamannya kertas yang wangi wangi itu, astagaaa sampe belain beli binder segala hahaha
Deletebeli yang gambarnya lucu-lucu, ada gambar baru beli, gitu aja isinya wkwkwkw
sekarang kayaknya jarang juga ya yang suka koleksi perangko, belum nemuin berita soal filateli yang terupdate juga
waaa apakah cuma ku yang nggak punya kenangan dengan postcard? wkwkw
ReplyDeletenggak tau kenapa aku kurang tertarik mbak, mungkin karena nggak ada temen yang suka ngirim2 surat pke prangko kali ya, hhh
hehehe dulu memang jarang banget yang suka kirim kirim postcard ataupun surat-suratan ya, aku sendiri sampe heran, kok bisa sampe segitu rajinnya sampe kirim berkali kali hahaha
DeleteSaya dulu pernah dapat kartu pos dari kenalan di Prancis karena menang sayembara memilih cover buku novel. Senang banget...
ReplyDeletewahhhh beneran nyampe ya dari Prancis ke Indo, senengnyaa.. apalagi perjalanan si kartupos itu juga nggak sebentar, mampir sana sini pastinya.
Deletesampe di tangan sendiri dengan baik, pasti hepi
Waktu kecil sepertinya pernah sih kirim surat pakai perangko dan juga kartu pos. Tapi tak lama kemudian kayaknya diganti sama SMS yang lebih murah dan lebih cepat.
ReplyDeleteMbak Ainun mirip dengan bang morishige, dia juga kalo keluar negeri seringnya beli postcard, buat kenang-kenangan gitu.😊
sebelum ada sms, lebih dulu pager ya mas agus? itu waktu jaman jamannya pager widihhh udah canggih banget dan yang make orang orang tinggi semua kayaknya
Deleteiya mas agus, jaman aku kecil si perangko ini laris manis, beli kartu pos aja sampe lupa sebulan bisa berapa kali habisnya
hahahaha mas moris iya suka beli postcard gitu ya, kayaknya kalo aku nggak salah ingat, di postnya memang pernah sengaja kirim ke rumahnya gitu
Sayangnya aku baru mulai suka beli postcard blm lama ini mba.padahal seandainya dari dulu, secara aku suka banget jalan2, pasti udah banyak koleksiku :D.
ReplyDeleteCm aku ga terlalu suka ngirimin postcardnya dari negara yg didatangin. Krn cerita banyak yg gagal kirim itu ato postcard nyasar nth kemana.jd kartupos yg aku beli, ya lgs aku bawa utuh aja. Kalopun ada temen yg minta, aku kirim brgnya lwt JNE/tiki pas udah di indo.
Kmrn pas ke Korut, aku beli banyak, sebagian utk giveaway. Temen2 yg ikut ke Korut pada kirim kartuposnya ke Indonesia lwt hotel di Korut. Hasilnya?
1 pun ga ada yg sampe ke Indonesia hahahahahah. Kayaknya tuh postcard ga lulus sensor Kim Jong un :p . Krn menurut guide kita, semua korespondensi dlm bntuk apapun , pasti akan dipriksa dulu oleh intelijen di sana:D
hehehe kartu pos memang jarang terpikirkan ya mbak
Deletenahh itu mbak, ternyata kejadian kartu pos nyasar udah sering banget ya, termasuk kiriman dari temen aku juga nggak nyampe-nyampe. aku kadang mikir, nih kertas tipis begini bisa ilang juga ya hahaha, mungkin karena saking tipissnnyyaaaa jadi gampang keselip selip
hehehe malah dari Korut aja ga nyampe ya kirimannya, apalagi pemeriksaan disana juga ketat, ini negara memang "beda", aku baca ceritanya mba fanny aja wow kayak independen gitu negaranya, tapi kebersihan, tempat wisatanya apik semuaa
Waktu kecil kalau nggak salah ada acara TV anak-anak judulnya Krucil. Seingat saya ada sesi membacakan pesan di kartu pos di sana. Saya gumun banget dulu. Tapi karena tinggal di kota kecil, saya nggak tau harus cari kartu pos di mana. :D
ReplyDeletePas sudah besar, saya jadi hobi mengirimkan kartu pos pas bepergian. Mungkin karena obsesi masa kecil soal kartu pos. Untungnya, sebagian besar kartu pos yang saya kirim sampai ke penerima. Cuma, kartu pos yang saya kirim untuk diri sendiri nggak pernah sampai. Hahaha...
hehehe dulu waktu kecil sudah terlintas pikiran gimana ya dapetin kartupos gitu, aku malah maniak kartupos kayaknya dari SD hahaha
Deletenggak nyangka juga pas udah gede dan rajin traveling masih terbayang kenangan masa kecil ya mas morish, istilahnya baru bisa dilaksanakan ya pas udah gede begini dan mengerti makna dibalik kartu pos, meskipun hanya sebagai kartu say hi
beruntung sekali sebagian besar kartu pos yang dikirim mas moris sampe ke penerima, aku ngirim ke diri aku aja juga ga sampe hahaha